Ysfksh's Blog

DIALOG DIRI

Posted on: January 31, 2010

Malam ini seorang sahabat baik meminta saya mengirimkan terjemahan “A Dialogue with Oneself” oleh Jiddu Krishnamurti. Mungkin juga sudah cukup lama saya tidak lagi membuka lembar-lembar karya Jiddu Krishnamurti, namun saya menyimpannya dengan baik dalam beberapa map berkas khusus, sehingga saya dengan cepat dapat menemukannya kembali. Saya pun sudah mengirimkannya via surat elektronik.

Tulisan ini kembali dapat direnungkan dengan baik, lagi pula di daerah saya sedang dalam suasana Siwaratri, walau tidak begitu berhubungan mungkin, namun tulisan ini tetaplah inspiratif.

Saya menyadari bahwa cinta hadir jika di sana ada kecemburuan; cinta tidak dapat hadir ketika di situ ada keterikatan. Kini, apakah mungkin mungkin bagi saya untuk bebas dari kecemburuan dan keterikatan? Saya menyadari bahwa saya tidaklah mencinta. Itu adalah sebuah fakta. Saya tak hendak menipu diri saya sendiri; saya tak hendak berpura-pura pada istri saya bahwa saya mencintainya. Saya tidak tahu apa itu cinta. Namun saya tahu bahwa saya pencemburu dan saya tahu bahwa saya begitu terikat padanya dan di dalam keterikatan itu ada ketakutan, ada kecemburuan, ada kecemasan; di sana hadir suatu rasa kebergantungan. Saya tidak suka bergantung namun saya demikian karena saya kesepian; saya telah diperintah ini dan itu di kantor atau di pabrik dan saya pun tiba di rumah – saya ingin merasakan kehangatan dan kebersamaan, guna lolos dari diri saya. Kini saya bertanya pada diri saya? Bagaimana saya bisa lepas dari keterikatan ini? Saya menyampaikan hal ini hanya sebagai sebuah contoh.

Pada awalnya, saya hendak lari dari pertanyaan itu. Saya tidak tahu bagaimana jadinya akhir hubungan saya dengan sang istri. Ketika saya bebas darinya, hubungan saya dengannya dapat berubah. Dia mungkin terikat pada saya dan saya bisa jadi tidak terikat padanya atau pun pada wanita lainnya. Namun saya akan menyelidikinya. Sehingga saya tidak lari dari apa yang saya bayangkan sebagai konsekuensi dari bebas sepenuhnya akan berbagai ikatan. Saya tidak tahu apa itu cinta, namun saya melihat dengan begitu jelas, dengan begitu pasti, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa keterikatan pada istri saya berarti kecemburuan, rasa memiliki sendiri yang kuat, ketakutan, kecemasan dan saya hendak bebas dari semua itu. Sehingga saya mulai menyelidiki; saya mencari sebuah metode dan saya terjebak dalam sebuah sistem. Beberapa guru berkata, “Saya akan membantumu bebas, lakukan ini dan ini, praktekkan ini dan ini.” Saya menerima apa yang ia sampaikan karena saya melihat betapa pentingnya menjadi bebas dan dia menjanjikan jika saya melakukan apa yang ia katakan, saya akan mendapat imbalannya. Namun saya melihat bahwa dengan demikian saya mengejar hadiahnya, imbalannya. Saya melihat betapa konyolnya diri saya; ingin menjadi bebas namun terikat dengan suatu imbalan.

Saya tidak ingin terikat dan saya sampai saat ini masih menemukan diri saya terikat pada ide seseorang, atau buku-buku, kitab-kitab, atau metode-metode, yang akan menghadiahkan saya kebebasan akan keterikatan. Jadi saya berkata, “Lihat apa yang telah saya perbuat; berhati-hatilah, jangan sampai masuk perangkap itu.” Apakah itu seorang wanita, sebuah metode, atau suatu ide, itu masih merupakan keterikatan. Saya begitu awas saat ini karena saya telah mempelajari sesuatu; yang adalah, tidak menggantikan suatu keterikatan dengan keterikatan dalam bentuk yang lainnya.

Saya bertanya pada diri saya, “Apa yang saya lakukan guna bebas dari keterikatan?” Apa yang menjadi motif saya ingin bebas dari keterikatan? Rasanya tidak bukan karena saya hendak mencapai suatu kondisi di mana di situ tiada keterikatan, tiada ketakutan dan tiada lain sebagainya? Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa motif memberikan arah, dan arahan itu mendikte kebebasan saya. Tidak hanya istri saya, tidak hanya ide – metode saya, namun motif saya juga menjadi sebuah keterikatan saya! Jadi saya adalah segala yang bergerak di ranah keterikatan – sang istri, si ide, dan motif guna mencapai sesuatu di masa depan. Terhadap semua ini saya terikat. Saya melihat adanya hal-hal yang luar biasa rumit; saya tidak menyadari bebas dari segala keterikatan termasuk akan hal-hal ini. Kini, saya melihat ini sejelas saya melihat sebuah peta jalan utama, jalan di pinggiran dan warga desa, saya melihatnya dengan begitu jelas. Lalu saya berkata pada diri saya, “Kini apakah mungkin bagi saya untuk bebas dari maha keterikatan yang saya miliki terhadap istri saya dan juga imbalan yang saya pikir saya akan mendapatkannya serta terhadap motif saya?” Pada semua ini saya terikat. Mengapa? Apakah ada yang kurang dalam diri saya? Apakah itu mengapa saya begitu amat kesepian dan karenanya mencari pelarian dari perasaan terisolasi ini dengan berpaling pada seorang wanita, suatu ide, sebuah motif; sebagaimana sepertinya saya harus berpegangan pada sesuatu? Saya melihat, jadi demikian adanya, saya kesepian dan saya lari melalui keterikatan terhadap sesuatu dari perasaan tersendiri yang luar biasa itu.

Jadi saya tertarik untuk memahami mengapa saya kesepian, karena saya melihat itulah sumber keterikatan saya. Bahwa kesendirian ini memaksa saya lari menuju menuju keterikatan pada ini dan itu, dan saya melihat selama saya sendiri maka kelanjutannya adalah hal ini. Apa yang dimaksud dengan sendiri? Bagaimana itu dapat hadir? Apakah itu merupakan insting, apakah ia diwariskan, ataukah diakibatkan oleh kegiatan sehari-hari saya? Jika itu karena sebuah insting, karena diwariskan, karena bagian dari lingkungan saya; maka saya tidak menyalahkan.

Namun karena saya tidak menerima ini begitu saja, saya mempertanyakannya dan tetap bersama pertanyaan itu. Saya mengamati dan saya tidak sedang mencoba untuk menemukan jawaban intelektual. Saya tidak sedang mencoba mengatakan pada kesendirian apa yang mesti ia lakukan, atau apakah ia sebenarnya; saya mengamatinya untuk memberitahukan saya. Di situ ada keawasan terhadap kesendirian guna mengungkapkan dirinya. Ia tak akan mengungkapkan dirinya jika saya lari, jika saya ketakutan; jika saya menolaknya. Jadi saya mengamatinya. Saya mengamatinya sedemikian hingga tidak ada pikiran yang mencampuri. Mengamati jauh lebih penting daripada hadirnya pikiran. Dan karena semua energi saya terkonsentrasi dengan pengamatan akan kesendirian itu, maka pikiran tidak muncul sama sekali. Batin sedang ditantang dan ia harus menjawabnya. Ditantang berarti berada dalam suatu krisis. Dalam suatu krisis Anda memiliki maha energi, dan energi itu tetap ada tanpa diusik oleh pikiran. Inilah sebuah tantangan yang mesti dijawab.

Saya memulai dengan percakapan dengan diri saya. Saya bertanya pada diri saya apakah hal aneh ini yang disebut cinta; setiap orang membicarakannya, menulis tentangnya – semua puisi romantis, gambar-gambar, seks, dan segala yang terkait dengannya? Saya bertanya: Adakah yang disebut cinta itu? Saya melihat bahwa ia tidak hadir ketika ada kecemburuan, kebencian, ketakutan. Jadi saya tidak lagi berfokus pada cinta; saya memperhatikan akan “apa itu”, ketakutan saya, keterikatan saya.  Mengapa saya terikat? Saya melihat bahwa salah satu alasannya – saya tidak berkata itu alasan keseluruhannya – bahwa saya sedemikian putus asa dengan kesendirian saya, terasing. Semakin bertambah usia saya, semakin terasing saya jadinya. Jadi saya mengamatinya. Ini adalah tantangan guna menemukan, oleh karenanya ini sebuah tantangan maka seluruh energi hadir guna merespons. Itu sederhana. Jika di sana ada kekacauan, suatu bencana atau apapun, itu adalah tantangan dan saya memiliki energi guna berhadapan dengannya. Saya tak perlu bertanya, “Bagaimana saya memperoleh energi ini?” Ketika rumah kebakaran, saya memiliki energi untuk bergerak; energi yang luar biasa. Saya tidak akan duduk dulu dan berkata, “Baiklah, saya harus memperoleh energi ini.”, dan kemudian menunggu; maka seluruh rumah akan terbakar habis sebelum saya selesai berpikir.

Jadi di situ hadir energi luar biasa guna menjawab pertanyaan ini: Mengapa kesendirian dapat hadir? Saya telah menolak semua ide, anggapan dan teori bahwa hal ini diwariskan, atau bahwa hal ini merupakan insting. Semua itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Kesendirianlah “apa itu”. Mengapa di situ kesendirian ini yang pada setiap manusia, jika ia sadar sepenuhnya, melaluinya, di permukaan atau di dalamnya? Mengapa ia hadir? Apakah batin mengerjakan sesuatu yang membuatnya hadir? Saya telah menolak teori sebagai insting dan warisan, dan saya bertanya: apakah batin, otak itu sendiri, menghadirkan kesendirian ini, keterasingan sepenuhnya ini? Di kantor saya mengasingkan diri saya karena saya ingin menjadi eksekutif kelas atas, karena pikiran bekerja sepanjang waktu guna mengasingkan dirinya. Saya melihat bahwa pikiran bekerja sepanjang waktu untuk membuat dirinya lebih superior, batin mengarahkan dirinya pada keterasingan ini.

Jadi permasalahannya adalah: mengapa batin melakukan ini? Apakah memang alaminya pikiran bekerja untuk dirinya? Apakah memang alaminya pikiran menciptakan keterasingan ini? Pendidikan menciptakan keterasingan ini; ia memberikan saya karier tertentu, keahlian tertentu dan sebagaimana lainnya, keterasingan. Pikiran, karena terpecah-pecah, karena terbatasi dan terikat oleh waktu, menciptakan keterasingan ini. Dalam keterbatasan itu, ia menemukan keamanan dan berkata, “Saya memiliki karier istimewa dalam hidup saya, saya seorang profesor, saya aman sepenuhnya.” Jadi yang menjadi perhatian saya kemudian, mengapa batin melakukan itu? Apakah ini merupakan sifat alaminya? Apa pun yang dilakukan batin pastilah terbatas. Kini masalahnya adalah, dapatkah pikiran menyadari apapun yang ia kerjakan adalah terbatas, berfragmentasi, dan karenanya terasing serta apa pun yang ia kerjakan maka itulah jadinya? Ini merupakan titik yang sangat penting: dapatkah batin menyadari keterbatasannya sendiri? Atau saya yang berkata padanya bahwa ia terbatas? Ini, saya melihatnya, begitu penting untuk dipahami. Ini adalah esensi sejati dari permasalahannya. Jika pikiran menyadari dengan sendirinya bahwa ia terbatas maka di situ tidak akan ada perlawanan, tiada konflik, ia berkata “akulah itu.” Namun jika saya yang memberitahukannya bahwa ia terbatas maka saya menjadi terpisah dari keterbatasan. Dan saya berjuang untuk mengatasi keterbatasan, dan di situ hadir konflik dan kekerasan, bukan cinta.

Jadi apakah pikiran menyadari dengan sendirinya bahwa dirinya terbatas? Saya harus mencari tahu. Saya sedang ditantang. Karena saya tertantang saya memiliki energi yang luar biasa. Sampaikanlah dengan cara lain: “Apakah kesadaran menyadari bahwa isinya adalah dirinya sendiri?” Dan karenanya saya berkata, “Ya, demikianlah ia”. Apakah Anda melihat perbedaan antara keduanya? Yang terakhir, diciptakan oleh pikiran, ia ditanam oleh sang “aku”. Jika saya menanamkan sesuatu pada pikiran maka di sana hadir konflik. Seperti pemerintahan tirani yang memaksakan sesuatu pada seseorang, namun di sini, pemerintahan itu adalah apa yang saya telah ciptakan.

Jadi saya menanyakan diri saya: sudahkah pikiran menyadari keterbatasannya sendiri? Atau ia berpura-pura menjadi sesuatu yang luar biasa, terhormat, suci? – yang merupakan omong kosong karena pikiran didasarkan pada ingatan. Saya melihat bahwa harus ada kejernihan tentang poin ini: bahwa di situ tidak ada pengaruh luar yang menanamkan pada pikiran dan berkata bahwa ia terbatas. Maka, karena tidak ada paksaan maka tidak ada konflik; ia menyadari dengan begitu sederhana bahwa dirinya terbatas; ia menyadari apapun yang ia kerjakan – apakah memuja Tuhan dan sebagainya – adalah terbatas, dangkal, menyedihkan – bahkan walau itu telah menciptakan berbagai rumah ibadah yang megah dan luar biasa guna pemujaan.

Jadi di situ telah ada di dalam percakapan dengan diri saya penemuan bahwa kesendirian diciptakan oleh pikiran. Pikiran kini telah menyadari dengan sendirinya akan dirinya yang terbatas dan tidak mampu mengatasi permasalahan kesendirian ini. Oleh karena ia tidak dapat memecahkan masalah kesendirian, apakah kesendirian itu ada? Pikiran telah menciptakan rasa kesendirian ini, kekosongan ini, karena ia terbatas, terpecah-pecah, terbagi, ketika ia menyadari ini, kesendirian tiada, karenanya di situ ada kebebasan dari keterikatan. Saya tidak melakukan apa pun; saya telah mengamati keterikatan ini, apa yang terjadi di dalamnya, keserakahan, ketakutan, kesendirian, semua itu dan dengan merunutnya, mengamatinya, bukan menganalisanya, namun hanya melihat dan melihat, maka di situ ada penemuan bahwa pikiran lah yang menghasilkan semua ini. Pikiran karena ia terpecah, telah menciptakan keterikatan ini. Ketika ia menyadari hal ini, keterikatan memudar. Di sana tidak ada daya upaya yang dibuat sama sekali. Karena saat ada upaya – konflik muncul kembali.

Dalam cinta tiada keterikatan; jika di sana ada keterikatan maka di sana tiada cinta. Di sana telah ada penghilangan faktor utama melalui negasi apa yang bukan itu, melalui negasi keterikatan. Saya memahami apa makna semua itu dalam kehidupan keseharian saya: tidak ada kenangan akan apapun akan istri saya, kekasih saya, atau tetangga saya yang dilakukan untuk menyakiti saya; tidak ada keterikatan akan gambaran apa pun yang dibentuk pikiran mengenai dia; bagaimana ia telah membohongi saya, bagaimana ia telah memberikan saya kehangatan, bagaimana saya telah mengalami kepuasan seksual, semua hal-hal berbeda yang gerak pikiran menjadikannya gambaran; keterikatan akan gambaran-gambaran tersebut telah lenyap.

Dan di sana ada faktor lain: haruskah saya melalui semua langkah-langkah itu satu per satu? Ataukah segalanya berakhir? Haruskah saya berjalan melaluinya, haruskah saya menyelidiki – sebagaimana saya telah menyelidiki keterikatan – ketakutan, kesenangan dan hasrat kenyamanan? Saya melihat bahwa saya tidak harus melalui semua penyelidikan akan berbagai faktor ini; Sekali pandang saya melihatnya, saya telah mendapatkannya.

Jadi, melalui negasi akan apa-apa yang bukan cinta, maka apa yang tersisa setelahnya adalah cinta. Saya tidak harus bertanya apa itu cinta. Saya tidak harus berlari mengejarnya. Jika saya mengejarnya, itu bukanlah cinta, itu adalah hadiah/imbalan. Jadi saya harus bernegasi, saya harus berakhir, dalam penyelidikan itu, dengan perlahan, dengan hati-hati, tanpa distorsi, tanpa ilusi, segala sesuatunya yang bukan itu, maka itu adalah yang sebaliknya.

Tonight was a good friend asked me to send the translation of “A Dialogue with oneself” by Jiddu Krishnamurti. May also have been quite a while I no longer opened the pages of the works of Jiddu Krishnamurti, but I keep it well in some specific files folder, so I can quickly find it again. I had been sent via electronic mail.

This paper can be reflected upon again well, and anyway in my area are in the mood Siwaratri, though not so related as possible, but it remains inspirational writings.

I realize that love is present if there is jealousy, love can not be present when there is attachment. Now, what is perhaps possible for me to be free from jealousy and attachment? I realized that I was not loving. It was a fact. I do not want to deceive myself; I do not want to pretend to my wife that I love him. I do not know what love is. But I knew that I was jealous and I knew that I was so attached to her and in attachment there is fear, no jealousy, no worries; there comes a sense of dependency. I do not like to depend on but me because I am lonely; I’ve ordered this and it was in the office or at the factory and I got home – I want to feel the warmth and togetherness, to get away from me. Now I ask myself? How can I escape from this bondage? I say this only as an example.

At first, I wanted to run away from the question. I do not know what it would end my relationship with his wife. When I am free of him, my relationship with him may change. He may be bound to me and I may not be tied to him or to other women. But I will look into it. So I do not run from what I imagined as a consequence of the completely free of many of the bonds. I do not know what love is, but I see so clearly, so certainly, without hesitation, that the attachment to my wife means jealousy, has his own sense of strong, fear, anxiety, and I want to be free from all that. So I began to investigate; I am looking for a method and I’m stuck in a system. Some teachers said, “I’ll help you free, do this and this, this and this practice.” I accept what he had to say because I saw how important it is to be free and he promised if I did what he was saying, I’ll get a reward. But I see that I am pursuing thus the reward, reward. I saw how stupid of me; want to be free but bound by a reward.

I do not want to be bound and to this day I still find myself tied to the idea of a person, or the books, the books, or methods, which will award me the freedom to bondage. So I said, ‘Look what I have done; be careful, do not get into that trap. “Is it a woman, a method, or an idea, it was still a bondage. I was so careful now because I have learned something; that is, not replace an attachment with the attachment in another form.

I asked myself, “What did I do to be free from bondage?” What is the motive I want to be free from bondage? It was not not because I wanted to achieve a condition in which there no attachment, no fear and no others? And I suddenly realize that motive gives direction, and guidance that dictate my freedom. Not only my wife, not just ideas – my method, but my motives also become an attachment to me! So I was everything that moves in the realm of attachment – the wife, the ideas, and the motive to achieve something in the future. Against all this I am bound. I see the things that are extraordinary complex; I did not realize free from all temptations, including going to these things. Now, I see this as clearly as I saw a map of main roads, and residents on the outskirts of the village, I saw so clearly. Then I said to myself, “Now is it possible for me to be free from bondage college I have for my wife and my reward is also thought I would get it and on my motives?” In all this I am bound. Why? Is there less of me? Is that why I was so lonely and so look for an escape from feelings of isolation by turning to a woman, an idea, a motive; as it seems I have to hold on to something? I see, so that way, I’m lonely and I ran through attachment to something of its own feeling was remarkable.

So I was interested to understand why I am lonely, because I saw that the source of my attachment. This forced solitude that I ran into to the attachment to this and that, and I saw my own for the sequel is this. What is meant by itself? How can attend? Is it an instinct, if he inherited, or caused by the activities of my daily? If it was because of an instinct, because it is inherited, because part of my environment, so I do not blame.

But because I do not accept this for granted, I question it and remain with the question. I watched and I’m not trying to find an intellectual answer. I am not trying to say in solitude what he should do, or whether he really is; I watched him to tell me. There was keawasan of solitude to express himself. He would not reveal itself if I run, if I’m scared; if I refused. So I watched. I watched so that no interfering thoughts. Observed far more important than the presence of mind. And because all of my energy will be concentrated with the observation that solitude, the mind does not appear at all. Inner being challenged and he must answer. Challenged means are in a crisis. In a crisis you have a mighty energy, and energy is still there without disturbed by the thought. This is a challenge that must be answered.

I started with a conversation with me. I asked myself whether this strange thing called love; each person to talk about, write about it – all the romantic poems, pictures, sex, and everything associated with it? I ask: Is there anything called love? I saw that he was not present when there is jealousy, hatred, fear. So I no longer focus on love, I would consider “what”, I fear, my attachment. Why am I bound? I saw that one of the reasons – I did not say that the whole reason – that I was so distraught with my loneliness, isolation. The more I grow older, the more isolated I became. So I watched. This is a challenge to find, therefore, is a challenge to the entire energy present to respond. That simple. If there is chaos, a disaster or anything, it is a challenge and I have the energy to deal with it. I do not have to ask, “How do I get this energy?” When a house fire, I have the energy to move; extraordinary energy. I’m not going to sit down and say, “Well, I must get this energy.”, And then wait; the whole house will burn down before I finished thinking.

So there comes tremendous energy in order to answer this question: Why loneliness may be present? I have rejected all the ideas, assumptions and theories that this is inherited, or that it is instinct. All that does not mean anything to me. Kesendirianlah “what is”. Why is there this loneliness that in every human being, if he is fully aware, through it, on the surface or within it? Why did he attend? Do inner work on something that made her presence? I have rejected the theory as an instinct and inheritance, and I ask: if the mind, the brain itself, presents this loneliness, isolation of this completely? In my office I retire because I want to be a top-class executives, because the mind works all the time to alienate him. I see that the mind works all the time to make themselves more superior, inner directed himself in this alienation.

So the problem is: why the mind do this? Is it natural for her mind work? Is it natural to create this alienation of mind? Education created this alienation, he gives me a certain career, certain skills and the other as, alienation. Mind, because the fragmented, due to limited and bound by time, creating this alienation. Within limitations, he found security and said, “I have a special career in my life, I am a professor, I was completely safe.” So that to my attention then, why the mind do that? Is this nature? Whatever is done must be limited mind. Now the problem is, can the mind to realize whatever he was doing was limited, berfragmentasi, and therefore alienated and whatever he was doing, it will happen? This is a very important point: can the mind to realize its own limitations? Or I who told him that he limited? This, I see it, so it is important to understand. This is the true essence of the problem. If self-aware mind that he was confined there then there will be no opposition, no conflict, he said: “I am that.” But if I am who informed him that he was limited so I became separated from the limitations. And I struggled to overcome the limitation, and there comes the conflict and violence, not love.

So if the mind itself realized that he limited? I had to find out. I’m challenged. Because I am challenged I have incredible energy. Convey another way: “Is consciousness to realize that it is his own?” And so I said, “Yes, so is he”. Did you see the difference between the two? The latter, created by the mind, he was planted by the “I”. If I put something on your mind then there comes the conflict. As the tyrannical governments that impose anything on anyone, but here, the administration is what I’ve created.

So I ask myself: sudahkah mind to realize its own limitations? Or he pretended to be something extraordinary, honorable, sacred? – Which is nonsense because the mind is based on memory. I see that there must be clarity on this point: that there is no outside influence instilled in the mind and said that he was limited. So, since there is no compulsion, there is no conflict, he noted with so simple that limited him, he realized that he had anything to do – whether to worship God and so on – are limited, shallow, pathetic – even though it has been creating magnificent house of worship and extraordinary to worship.

So there was in the conversation with me the discovery that the loneliness created by the mind. Mind now has realized its own limited to himself and not able to overcome this loneliness issue. Because he can not solve the problem of solitude, whether it is loneliness? The mind has created this sense of loneliness, this emptiness, because it is limited, fragmented, divided, when he realized this, loneliness is gone, so there is no freedom from bondage. I did not do anything; I’ve watched this attachment, what is happening in it, greed, fear, loneliness, all of that and with merunutnya, watching, not analyze it, but just watch and see, then there was the discovery that the mind is the produce all this. Mind because he was distracted, has created this attachment. When he realized this, attachment to fade. There was no effort made at all. Because when there is an effort – conflict re-emerged.

In love there is no attachment; if there is attachment there is no love. There has been a major factor through the elimination of the negation of what is not, through the negation of attachment. I understand what the meaning of it all in my daily life: there are no memories of anything to my wife, my lover, or my neighbors do to hurt me, no attachment to any idea that was formed thoughts about him, how he had lied to me , how he had given me warmth, how I had experienced sexual satisfaction, all the different things that makes the mind of motion picture; attachment to these images have disappeared.

And there are other factors: should I go through all the steps one by one? Or is it all end? Should I go through it, should I investigate – as I have investigated the attachment – fear, excitement and passion of comfort? I saw that I did not go through such an investigation this will be a variety of factors; One look I see, I’ve got it.

Thus, through the negation of what-what is not love, then what is left after that is love. I do not have to ask what love is. I do not have to run after him. If I go after, it is not love, it is a gift / reward. So I have to bernegasi, I must end, in that investigation, slowly, carefully, without distortion, without illusions, everything is not that, then it is the opposite.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

kalender

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: